Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2008

Bersyukur Selalu

‘Ambil.. ga.. ambil.. ga.. ambil.. Ah, ambil aja deh,’ gumamku dalam hati.
Akhirnya kuambil juga CD Soundtrack School of Rock yang sudah lama kuimpikan itu dari rak CD di dekatku. Hup! Segera kuluncurkan CD itu ke dalam tas yang sedang kukepit. Kurasa, aku akan aman-aman saja. Yang perlu kulakukan saat ini hanyalah berpura-pura melihat ke rak lain lalu segera melesat keluar dari toko ini.
Aku pun berhitung dalam hati sambil berusaha tetap tenang, maklum ini adalah aksi pertamaku. ‘Satu rak, dua rak, tiga rak.. Cukup. Saatnya pulang,’ gumamku sambil melangkah ke pintu toko.
“Maaf, tapi sebaiknya Anda bersedia bekerja sama dengan kami,” tiba-tiba seorang pramuniaga berwajah garang menghadangku.
“Tentu saja,” sahutku sok tenang, ”Ada yang bisa saya bantu?”
“ Tolong kembalikan CD yang tadi Anda ambil pada rak semula,” perintah si pramuniaga.
Ow, ow. “Maaf, saya tidak mengerti apa maksud Anda.”
“Anda pasti sangat mengerti apa maksud saya, Nona Sok Innocent. Jadi segera lakukan apa yang tadi saya minta.”
Aku pun kembali berhitung dalam hati, ’Satu, dua, tiga, lariii!’
Aku berusaha lari secepat kilat, tetapi entah mengapa adegan lari ini berjalan dengan begitu lambat, sementara si pramuniaga mengejarku dengan wajah-siap-bantai-nya.
‘Aduh, gimana niy kalau ketangkep. Bisa mampus deh gue. Dia makin deket lagi. Hwa!!’
Gubrak.
“Wadow!! Buset dah!! Sakit banget badan gue. Kok gue bisa-bisanya nabrak tu tong sampah siy? Bakal ketangkep deh gue,” gerutuku sambil celingukan mencari sosok si pramuniaga garang.
‘Lho, kok gue bisa ada di lantai kamar gue ndiri siy? Perasaan tadi gue lagi kejar-kejaran ma pramuniaga di jalan pasar,’ aku mulai mengingat-ingat, ‘Huuh, ternyata cuma mimpi, toh. Puji Tuhan. Gue janji seumur-umur, ga bakalan mau ngikutin instruksi geng gue buat ngleptoin barang. Makasih deh, cukup dalam mimpi aja. Peduli amat kalau ntar gue dikeluarin dari geng itu.’
“Rara!!” teriak mama dari lantai bawah.
“Iya, Ma,” sahutku dengan berteriak pula.
“Udah siang niy. Bangun dong, Ra.”
Aku menoleh ke arah jam dindingku. ‘Astaga, dah jam 7 kurang 10 menit! Gimana dong?!’
Aku segera menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi lalu menggosok gigi dan mencuci muka. Tanpa babibu, aku melesat kembali ke kamar dan berganti pakaian. Aku segera menyambar tasku, berlarian ke lantai bawah.
Mendengar langkahku yang berisik, mama yang sedang mengatur sarapan di meja makan malah berseru memujiku, “Duh, Anak mama. Tumben-tumbenan semangat bangun pagi. Biasanya kan..”
Aku segera mengecup pipi mama dan papaku yang sedang duduk membaca koran, “Dah, Ma.. Pa..” Siung!! Aku lari secepat kilat keluar rumah diiringi tatapan bingung kedua orang tuaku.
Begitu sampai di luar pagar, aku melihat bus yang seharusnya kunaiki melintas di depanku. Huuh, terpaksa deh aku harus menunggu bus berikutnya datang. Ketika akhirnya bus yang kutunggu-tunggu datang, aku segera naik walaupun bus itu penuh sesak.
Duk! Seseorang menabrakku dengan cukup keras. Aku meringis kesakitan sambil menatap orang itu dengan kesal.
“Kiri, kiri, Pak,” teriaknya pada kenek bus, tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.
Di tengah jalan, aku turun untuk berganti bus. Untuk mendapatkan bus kedua, aku harus menyebrang jalan dulu. Karena sedang lampu merah, aku berjalan santai saja. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan dengan arah jalur yang seharusnya, sebuah motor melintas. Aku tak sempat menghindar dan akhirnya tertabrak. Akupun terjatuh seketika.
Pengemudi motor itu menghentikan motornya lalu bertanya apakah ia perlu mengantarkanku ke rumah sakit terdekat. Aku berkata bahwa itu tidak perlu karena aku tidak merasa sakit dan sedang terburu-buru. Ia pun meminta maaf lalu segera pergi.
Aku segera mendapat busku dan kali ini aku berhasil memperoleh tempat duduk, walaupun aku harus menahan napas karena bersebelahan dengan seorang pria yang sedang merokok. Tiba-tiba aku merasakan lututku sakit. Secara reflek, aku memegangi kedua lututku lalu meringis karena perih. Tiba-tiba, aku melihat tanganku berlumuran darah. Hah, ternyata aku tadi tidak menyadari lukaku karena tertutup oleh rok sekolahku. Sambil menahan sakit, aku tetap melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Tiba di gerbang sekolah, aku segera turun dari bus dan menyebrang jalan dengan terbirit-birit. Aku mengumpulkan segenap kekuatan untuk menerima omelan dari satpam sekolahku. Malang bagiku, bukan omelan yang kudapat, melainkan tertawaan darinya.
“Ngapain, Neng, hari gini ke sekolah?” tanyanya sambil terkikik.
“Ya, mau sekolah lah, Pak,” sahutku dengan kesal.
“Neng, neng.. Sekarang kan hari Minggu. Memang ada kegiatan apa di sekolah. Kok saya ga dikasi tahu siy?”
“Ha, hari Minggu, Pak?”
“Lha, iya. Emang Neng piker, ini hari apa?”
“Mmm, mmm..”
“Kecil-kecil kok udah pikun,” ejeknya disertai kikikan.
“Ya udah deh,Pak. Kalo gitu, saya pulang dulu ya, Pak,” ujarku sambil menahan malu.
“Iya, besok jangan lupa sekolah ya, Neng. Jangan sampe telat.”
‘Huuh, sebel!! Kok gue bisa lupa siy kalo ini hari Minggu. Udah kakiku sakit lagi. Minta jemput papa aja deh. Mana ya, ponsel gue?’
Aku mengacak-acak isi tasku, tapi aku tak juga menemukan ponselku padahal seingatku sejak kemarin aku tak pernah mengeluarkan ponselku dari tas. Jangan-jangan..
‘Jangan-jangan, gue dicopet pas di bus tadi. Abis, busnya kan penuh banget, terus ada yang nyenggol lagi. Duh, apes banget siy, gue..’ gumamku dengan kesal.
Dengan terpaksa, aku kembali menaiki angkot untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku berjalan gontai memasuki ruang makan untuk melanjutkan sesi sarapanku tadi. Belum sempat menyentuh makanan, aku mendengar kikan dari kedua orang tuaku.
“Wah, anak mama. Kok cepet banget siy pulang sekolahnya? Memang ada rapat guru?” ejek mamaku.
“Nggak ada rapat guru kok,” sahutku kesal.
“Hmm, berarti class meeting dong,” sekarang ganti papa yang mengejekku.
“Mama sama papa apaan siy?” rengekku.
“Sayang, gitu aja kok ngambek siy?” tanya mamaku.
“Kita kan cuma bercanda,” lanjut papaku.
“Bercanda, siy bercanda, tapi lihat sikon (situasi kondisi - nouphz) dong. Anak lagi sial begini juga,” rajukku sambil memperlihatkan luka di kedua lututku.
“Ya, ampun sayang! Kok bisa siy?” jerit mamaku.
“Tadi aku ketabrak gitu deh sama motor.”
“Kapan?”
“Pas nyebrang di pertigaan daerah Volvo.”
“Makanya kamu hati-hati dong, kalau lagi nyebrang,” omel mama sambil mengambil peralatan P3K-nya.
“Aku siy udah hati-hati, tapi motornya aja yang salah ngambil jalur.”
“Ya udah, sini mama obatin.”
“Mmm, Ma.”
“Apa?”
“Tapi jangan marah, ya?”
“Apaan siy, cerita aja belom, kenapa mesti marah?”
“Justru itu. Sebelum Rara cerita, Rara mesti yakin dulu kalau mama ga akan marah. Ya, Ma?” bujukku.
“Iya, iya. Mama ga akan marah. Emang kenapa siy?”
Aku berpaling kepada papaku. “Papa juga harus janji ga akan marah!”
“Heeeh, iya. Papa juga janji ga akan marah. Sebenarnya ada apa siy?”
“Sebenarnya.. Gini, Ma, Pa. Rara sebenernya udah hati-hati. Hati-hati banget, malah. Tapi..”
“Tapi apa?” tanya mama dan papaku hamper berbarengan.
“Tapi.. hp-nya ilang juga..”
“Hah!!” sekarang mama dan papa kompak berhisteria.
“Kok bisa siy?” omel mama.
“Tadi busnya rame banget siy, Ma. Jadi.. gitu deh.”
“Gitu deh, gitu deh. Kamu kira harga hp tuh murah apa?!”
“Udahlah, ma. Anak lagi sakit begitu juga, masak masih diomelin,” bujuk papa.
“Biarin aja, Pa. Abiz niy anak emang sembrono banget dari dulu. Biar dia tau rasa sekali-sekali,” repet mama.
“Ih, Mama, gitu banget siy sama anak sendiri,” rajukku.
“Hm, ya udah. Niy lukanya udah beres. Sekarang kamu ganti baju di atas sana.”
“Mau kemana, Ma? Mama mau ngajak Rara jalan ya?” tanyaku girang.
“Jalan gimana? Kamu masih lupa sekarang hari apa?” omel mama.
“Hari Minggu. Terus kenapa?” tanyaku polos.
“Biasanya hari Minggu kita kemana?”
“Ya, ke gerejalah,” jawabku sekenanya.
“Ya udah. Kok masih nanya?”
“Tapi ini kan udah siang, Ma? Kita kan biasanya ke gereja tuh pagi-pagi.”
“Maunya mama juga gitu. Tapi tadi pagi kan kamu malah ke sekolah, ya kan?”
“Iya, juga ya, Ma,” jawabku sambil cengar-cengir.
Aku segera melesat ke kamarku sebelum mama melanjutkan omelannya, sementara papa hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku diomeli mama. Tapi rupanya bukan hanya aku yang kena omel.
“Papa kok masih nyante-nyante baca koran. Ganti baju sana!”
“I, iya, Ma..”
Akhirnya, kami sekeluarga pergi ke gereja. Rupanya tema ibadah hari ini adalah tentang rasa syukur. Dengan lantang, Pak Pendeta berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam segala hal! Bersyukurlah dalam segenap sukacitamu dan segenap dukacitamu karena dalam setiap hal yang terjadi dalam hidupmu, Tuhan bekerja untuk mendatangkan kebaikan buat kita. Tetapi bukan menurut waktu kita, melainkan menurut waktu Tuhan.”
Mendengar khotbah itu, aku cuma bisa bergumam, ‘Kayaknya gue lagi disindir niy ama pendetanya. Tau aja siy dia kalau hari ini gue lagi sial! Bersyukur pas lagi seneng siy enak. Gampang. Tapi kalau pas lagi sial begini kan..’

Tisa!!

Kriiing! Kriing!
Aku tersentak dan secara reflek melihat jam dindingku. Baru pukul 5.47. Pasti Ibunya Tisa yang menelepon. Dengan gontai aku keluar kamar dan mengangkat telepon.
“Pagi.”
“Selamat pagi,” jawab seseorang di seberang sana.
“Ini Ocha, ya? Tisanya ada?”
“Ga ada Tante.”
“Kira-kira, dia kemana, ya?”
“Saya juga kurang tau, tante. Saya sudah berusaha menghubungi teman-teman kampusnya, tapi semuanya bilang kalau mereka terakhir ketemu dengan Tisa sekitar seminggu yang lalu di kampus, itupun siang hari. Padahal malamnya, kami masih ketemu Tisa di kos.”
“Ya sudah kalau begitu. Kalau sudah ada kabar tentang Tisa, tolong segera kabari Tante, ya?”
“Pasti, Tante.”

Sudah seminggu ini beliau –dan kami– mencari Tisa. Entah dimana anak itu berada. Terakhir kali kami bertemu dengannya sekitar seminggu yang lalu. Malam itu, seingatku, Tisa lebih dulu masuk ke kamarnya. Setelah itu, teman-teman kosku satu-persatu menyusul masuk ke kamar masing-masing. Aku adalah yang terakhir masuk ke kamar karena film “Independence Day” yang diputar di televisi baru selesai pada jam 23.00. Dan seingatku, sepajang malam itu, aku tidak mendengar suara-suara aneh di sekitarku.
Esoknya, Ibu Tisa menelepon, seperti yang terjadi pada pagi ini. Seperti biasa, akulah yang mengangkat telepon aku adalah makhluk pertama yang bangun pagi di kosku. Ketika itu, aku sudah memanggil nama Tisa hingga berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban darinya. Tetapi saat itu, kupikir dia hanya terlalu lelap tidur saja. Anehnya, sudah seminggu ini, kami tidak melihat batang hidung anak itu. Ponselnya selalu berada pada posisi tidak aktif, begitu juga dengan ponsel pacarnya, Beno. Mereka bagaikan lenyap di telan bumi. Teman-teman mereka pun tidak ada yang tau dimana mereka berada.
Aku kembali ke kamarku dan kembali melihat ke arah jam. Sudah hampir jam enam. Sudah saatnya aku mandi.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendengar telepon berdering lagi. Sekarang telepon dari siapa, ya? Tidak mungkin Ibunya Tisa yang menelepon lagi.
“Pagi,” sapa suara di seberang. Suara seorang pria.
“Pagi. Cari siapa, ya?”
“Tisanya ada?”
“Tisa udah seminggu ini ga ada. Kita juga lagi nyariin dia. Ini siapa?”
“Saya Danu, temannya Beno. Saya cuma mau ngabarin kalau saya sudah tau dimana Beno. Dia ada di Rumah Sakit Hadisuwarno. Kamu temannya Tisa yang waktu itu nelepon ke kos, nyariin Tisa kan?”
“Iya, bener. Oke, aku ke rumah sakit sekarang sama temen-temen yang lain. Si Beno di kamar nomor berapa? Emang dia sakit apa siy?”
“Kamar Anggrek 15 di lantai 3. Kami juga belum tau dia sakit apa. Barusan dia ngubungin dan minta kita semua ke sana, termasuk teman-temannya Tisa. Dia bilang ada yang mau dia sampaikan tentang Tisa.”
“Oh, oke. Kalau gitu, kita langsung ketemu di sana aja. Bye.”
“Bye.”
Setelah meletakan gagang telepon, aku mengetuk-ngetuk pintu kamar teman-teman kosku dan menyuruh mereka segera bangun. Setelah semua berkumpul, aku cerita mengenai isi telepon tadi dan menyuruh mereka segera bersiap. Dengan terburu-buru, kami bersiap-siap pergi.
Setelah semua siap, kami berangkat dengan berboncengan motor. Tiba di rumah sakit, kami langsung menuju kamar yang tadi disebutkan Danu dan mendapati Beno terbaring lemah di sana.
“Hai, teman-teman,” sapanya dengan senyum lemah.
“Beno! Lo kenapa?” Tanya kami berbarengan.
“Kecelakaan. Sori, gue baru ngubungin kalian sekarang. Kenalin ini teman-teman kos gue,” katanya sambil menunjuk segerombolan cowok yang sudah nangkring di sisi kiri tempat tidurnya. “Dan itu keluarga gue,” lanjutnya sambil menunjuk ke balkon.
“Terus Tisa mana?” tanyaku serta-merta.
“Tisa.. Dia..”
“Dia kenapa?” ganti temanku Nia yang bertanya.
“Dia juga kecelakaan.”
“Ya, tapi sekarang dia dimana?”
“Dia.. Dia..”
“Sebenarnya ada apa sih, Ben?” aku bertanya.
“Sebenarnya, seminggu yang lalu, aku ngajak Tisa nonton “Spiderman 3” di bioskop Origin tengah malem, tapi..”
“Bioskop Origin?!” jerit kami berbarengan.
Tiba-tiba, suasana kamar itu hening. Kami sibuk dengn pikiran kami masing-masing. Akhirnya suara Lili memecah keheningan itu. “Ga mungkin, lo ngajak dia nonton tengah malem. Kita lihat Tisa masuk kamar jam sembilanan, kos udah ditutup jam 10 malem, dan Ocha bilang dia nonton di ruang tengah sampai jam 11. Kalau Tisa mau keluar sama lo, Ocha pasti lihat.”
“Gue nyuruh Tisa keluar lewat jendela kamarnya dan gue bantuin Tisa manjat pagar,” jawab Beno lirih.
“Tapi gue ga ada denger suara apapun sampai jam sebelasan,” sahutku.
“Tisa baru keluar jam 12 kurang 10 menitan. Mungkin saat itu, lo udah udah tidur. Lagian, gue sama Tisa berusaha keras supaya ga berisik.”
“Ya, kayaknya gue udah tidur jam segitu..” jawabku lirih.
“Oke, kalau gitu, lo dan Tisa nonton bioskop bareng, terus kalian berdua kecelakaan. Terus sekarang, Tisanya mana?” seloroh Meli.
“Gue ga berhasil nyelamatin Tisa karena gue sendiri keburu pingsan karena kekurangan oksigen. Gue bisa selamet karena seseorang masih sempat menyeret gue keluar dari situ.”
“Maksud lo, Tisa udah..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.
Beno hanya bisa mengangguk lemah sambil menangis. Suasana kamar kembali hening, tapi kali ini diiringi dengan deraian air mata.
Setelah sampai di kos, aku menyendiri di kamarku. Aku membongkar tumpukan koranku dan mengambil sebuah koran yang terbit seminggu lalu. Aku segera menekuri berita yang berjudul “Bioskop Origin Dijilat Si Jago Merah”.
Di artikel itu tertulis, ada puluhan orang yang menjadi korban dan lima di antaranya meninggal dunia. Sayangnya, kelima korban meninggal tersebut sulit teridentifikasi karena luka bakar yang sangat parah. Yang tak kusangka saat membaca berita itu seminggu yang lalu adalah salah satu di antara korban itu.. Tisa!!

Minggu, 02 Maret 2008

Cuma Iseng

Vino
Buk!
Kayaknya gue denger suara tonjokan deh. Ada apaan yah? Kayaknya dari belakang ruangan ini. Gue intip dulu aja kali, ya. Wah, itu kan Sonia yang terkenal tomboi itu. Tapi ngapain dia nonjok tu cowo, ya? Mungkin cowo itu udah bikin dia kesel kali, ya? Atau mungkin tu cowo udah ngegangguin temennya Sonia, makanya Sonia ampe nonjok dia. Wah, gue ga bisa diem aja, kalo gitu. Gue mesti bantuin Sonia niy.
Vino segera berlari menghampiri Sonia dan seorang cowok bernama Fadli. “Woi, ada apaan niy?!”
Sonia dan Fadli kompakan menoleh ke Vino dan mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Fadli melepaskan cengkeraman Sonia dan lari terbirit birit. Agaknya, Sonia juga ga mau ketinggalan dan ikutan lari terbirit-birit.

Sonia
Mampus deh, gue. Apes banget siy gue ampe si Vino yang macho abiz itu nangkep basah gue lagi mukulin orang. Rusak udah imej gue. Gimana dia mau naksir ama gue kalo gini?
Sekarang sudah hampir setahun sejak Vino memergoki Sonia menonjok Fadli, tapi Sonia belum juga punya keberanian untuk menengadahkan wajah tiap kali berpapasan dengan Vino di sekolah.
Vino, Vino. Lo emang keren abiz. Udah baek, pinter, pemberani pula. Kemarin gue ngeliat dia lari buat nangkep copet di pasar. Asli, keren abiz. Padahal tu copet kan punya backing-an preman pasar. Tapi dia tetep berani ngebelain ibu yang dicopet itu. Huah!!
Ya udahlah, ga usah mikirin dia mulu. Mumpung udah slese ujian kenaikan kelas dan sekarang lagi di dufan, mending gue ngelupain si Vino dulu dan fokus nyobain wahana-wahana di sini. ‘Tul, ga?
Eh, itu kan si Vino. Panjang umur banget siy tu anak. Baru juga diomong.. eh dipikirin, udah muncul aja. Dia lagi ngapain tuh? Samperin, ah, siapa tau bisa sekalian kenalan juga.

Vino
“Vin, ayo naik,” seru Nathan, kakak Vino.
“Nggak ah, Kak. Ntar gue mual-mual lagi.”
“Yaelah. Masa lo masih takut aja naik bianglala doang. Please, deh,” ejek Nathan.
“Biarin,” sahut Vino ketus.
Tiba-tiba Sonia menyapanya dari belakang, “Hai, Vino, ya?”
Karena kaget, Vino menjawab dengan terbata-bata,”I, iya.”

Sonia
“Aku Sonia. Kita satu sekolah, lho.”
“I, iya. Aku tau kok.”
“Oh, ya? Mmm, kamu mau ngapain? Mau naik bianglala, ya?” tanya Sonia.
“Ng, nggak kok.”
“Terus, kamu mau ngapain dong?”
“Cuma mau nemenin kakakku doang.”
“Ih, ga seru amat. Maen aja yuk.”
“Mmm.”
“Oh, aku tau, kamu maunya maen yang lebih seru kan? Kalau gitu kita maen Tornado aja, yuk.”
“Mmm, gimana ya?”
“Kakaknya Vino, mau maen Tornado juga?” tiba-tiba Sonia sok akrab dengan Nathan.
“Mau banget. Oh ya, kenalan dulu dong. Gue Nathan.”
“Sonia, temen sekolahnya Vino.”
“Oh, Sonia yang tomboi banget itu ya?”
“I, iya. Jadi, malu.. Lho, kok kakak tau?”
“Soalnya si Vino suka cerita tentang..”
Tiba-tiba Vino memotong pembicaraan itu, “Woi, lo kok ngobrol mulu siy? Jadi maen ga?!”
“Jadi, dong. Ayo, ayo,” seru Sonia girang sambil melangkahkan kaki ke wahana Tornado.
Vino dan Nathan mengikuti Sonia dari belakang. Nathan berbisik kepada Vino, “Lo serius, Vin, mau naek Tornado?”
“Serius,” jawab Vino ketus.
“Tapi, lo kan..”
“Udah, lo diem aja. Gue ga papa kok.”
Nathan menatap Vino tak yakin.
“Udah, deh. Lo tenang aja.”
“Terserah lo deh, Vin. Gue ga nanggung ya, kalau ada apa-apa.”
Setelah mengantri cukup panjang –maklum weekend– mereka bertiga akhirnya dapat menaiki wahana Tornado. Tapi setelah permainan selesai, Vino muntah.
“Vin, lo ga papa kan?” tanya Sonia prihatin.
“Gue bilang juga apa,” seru Nathan.
“Lho, emang kenapa?” tanya Sonia bingung.
“Gini lho, Son. Vino itu..”
“Gue fobia ketinggian,” cetus Vino.
“Hah?! Serius, lo?”
“Ya, seriuslah,” jawab Vino lemas.
Ow,ow.

Vino
Ukh, gue malu banget niy. Sonia pasti ilfil deh sama gue. Kenapa siy, gue pake nemenin si Nathan ke dufan segala? Wah, itu si Sonia. Dia mau kemana, ya? Kayaknya ke arah sini deh. Gue nunduk aja kali yei..

Sonia
“Hai, Vin!”
“Eh, hai.”
“Badan lo udah enakan?”
“U, udah. Mmm, lo ada perlu apa?”
“Gini, Vin, gue mau bilang sama lo kalo gue tuh udah lama suka sama lo dan gue pengen lo jadi cowo gue. Lo mau nggak?”
“Mmm, Son..”
“Lo harus mau, Vin. Kalo nggak..”
“Ka, kalo ga..”
“Kalo ga, gue bakal nyebarin soal fobia lo ke anak-anak satu sekolahan,” ancam Sonia.
“Lo jangan gitu dong..”
“Makanya, lo mau dong.”
“Iya deh, gue mau.”
“Lo serius.”
“Menurut lo?”
“Serius..”
“Ya udah..”
Hore! Untung si Vino mau jadi cowo gue, jadi anak-anak nyebelin itu ga bakalan ngatain kalo gue tuh cewe lesbi gara-gara ga pernah pacaran. Gue emang tomboy, tapi gue mikir mikir trilyunan kali buat jadi lesbong. Tapi selaen itu, gue juga seneng banget soalnya gue emang beneran suka ama si Vino. Jadi, hore –lagi!

Vino
Gila, mimpi apa gue semalem ampe gebetan gue nembak gue? Kirain di bakal ilfil sama gue. Mungkin aja siy, tapi bodo amat, ah. Yang penting gue udah jadian ma dia, malah sekarang gue bisa jalan bareng ama dia. Mmm, apa gue ngaku aja ya, kalo sebenernya gue..
“Son, makasih, ya, lo udah suka sama gue.”
“Yee, ada juga gue yang harusnya bilang makasih ke elo karena lo udah mau jadian sama gue.”
“Gue juga seneng kok bisa jadian sama lo.”
“Lo serius, Vin?” tanya Sonia dengan wajah berbinar-binar.
“Serius. Karena sebenernya gue juga udah lama suka sama lo.”
“Oh ya?! Sejak kapan?”
“Sejak.. Mmm, sejak gue ngeliat lo nonjokin Fadli.”
“Hah?!”
“I, iya, Son. Waktu itu gue nganggep lo tuh keren banget.”
“Ke, keren? Keren gimana maksud lo?”
“Ya, lo tuh keren banget. Soalnya gue tau kalo lo tuh nonjok Fadli pasti karena lo pengen ngebelain temen lo yang digangguin sama dia kan? Itu artinya lo cewe yang setia kawan.”
“Mmm, Vin.. Sebenernya..”

Sonia
Buk!
“A, ampun, Son,” Fadli berkata lirih.
“Ah, ga ada ampun-ampun!” seru Sonia.
“E, emang gue salah apa siy, Son?”
“Oh, jadi lo ga tau salah lo apa?” tanya Sonia sambil mencengkeram kerah seragam Fadli.
“Ng, nggak, Son.”
“Sama. Gue juga ga tau salah lo apa,” jawab Sonia polos sambil melepaskan cengkeramannya.
“Lha, kok lo tadi nonjok gue?”
“Ya, iseng aja.”
Fadli menatap Soni kesal.
“Kenapa?” Sonia balas menatap Fadli dengan garang. “Lo mau lagi?” tanyanya sambil mengacungkan tinjunya ke depan wajah Fadli dan kembali mencengkeram kerahnya.
“Ng, nggak, Son. Nggak. Ampun, Son,” Fadli memelas.
“Makanya, jangan macem-macem lo ama gu..”
Tiba-tiba, Vino datang menghampiri mereka dan berseru lantang, “Woi, lagi ngapain lo?”

Vino
“Gitu ceritanya,” kata Sonia lemas mengakhiri ceritaku.
“Oh, gitu toh ceritanya.”
“Te, terus, lo masih suka sama gue setelah tau ini?”
“Masih dong. Gue tau kalo lo tuh dasarnya baek kok. Buktinya, gue sering denger temen-temen muji lo karena sering ngebelain mereka dari geng-geng sok populer di sekolah. Kalau masalah yang tadi siy, namanya juga anak muda, bolehlah sekali-sekali iseng,” jawabku sambil tersenyum simpul.
“Mmm, Vin..”
“Ya?”
“Kalau gue ngaku sebenernya gue pengen jadian sama lo bukan cuma karena gue suka sama lo, tapi juga supaya gue menang taruhan sama anak-anak yang ngatain gue lesbi, gimana?"
“Hah?!”

nb: Gue bikin cerpen ini karena terinspirasi sama kebrutalan sohib gue. Dari SD, anaknya tomboy abiz gethoo. Cerita tonjokan isengnya juga beneran. Tapi yang laen2nya cuma gue karang2 doank koq. Hehe..

Jumat, 29 Februari 2008

Jawaban Doaku!!

Minggu, 6 Januari 2008
Pagi ini bener-bener sial deh. Bangun kesiangan. Ga sempet sarapan. Tugas belum kelar pula. Huh, pokoknya aku bete banget deh. Padahal tadi aku dah sate, tapi kok hati aku belum benar-benar teduh, ya?!
Hmm, yang penting sekarang, semangat jalan kaki ke gereja. Tu, wa, tu, wa! Wah, niy jalan sepi amat. Oh, iya kan niy hari Minggu, jelas aja jalannya agak lengang gini. Orang-orang masih pada molor kali, ya? Kalo Nico, kira-kira lagi ngapain, ya? Tu anak gereja pagi ga, ya? Atau masih molor? Lho, lho, kok aku tiba-tiba inget dia siy? Kalo dipikir-pikir, dah lama juga ya aku ngegebetin dia. Dari zaman SMP, euy! Walah lama amat yakh?! Herannya, sampe sekarang kok aku belum bisa melupakan dia. Ya, iyalah. Gimana bisa lupa kalo dari SMP sampe kuliah, kita sekolah dan ngampus di tempat yang sama?
Tapi kan udah setahun ini, aku ga pernah ketemu sama dia, nomor ponselnya hilang gara-gara beberapa bulan lalu ponselku dicopet, dan email-ku pun belom dia bales. Tapi kata temen-temen, dia ga banyak perubahan siy. Masih gitu-gitu aja.
Huh, kenapa aku inget-inget dia lagi siy? Harusnya kan aku udah ngelupain dia. Bukan sebagai temen siy, tapi sebagai gebetan. Aku tahu siy kalo dari dulu dia nganggep aku seperti adiknya sendiri, tapi entah kenapa, aku selalu berharap suatu hari dia bisa nganggep aku lebih dari itu.
Oh, oke, kayaknya hari ini waktu yang tepat untuk mulai berkomitmen ngelupain dia deh mumpung masih dalam suasana tahun baru. Hmm, ini bisa jadi salah satu resolusi tahun baruku. Kalo gitu, Tuhan, kita bikin perjanjian, ya. Aku janji bakal ngelupain dia, kalo aku bisa ketemu sama dia sekaliiiiiiii aja. Kalo ga, ya berarti emang udah takdirku nungguin dia..
Hwakaqueque!! Sudah bernasib apes pagi-pagi begini, apa iya aku masih bisa ketiban untung? Lagian, ketemu ga ketemu, tetap aja aku ga beruntung. Kalo ketemu, berarti aku musti rela ngelupain dia; kalo mo ga ngelupain, berarti ga bisa ketemu sama dia. Huuuuh, ribet amat siy mo ketemu doank?! Walo begitu, aku berharapnya bisa ketemu siy. Tapi.. udah celingukan sepanjang jalan gini, kok aku ga ada lihat dia juga, ya? Mungkin hari ini memang bukan hari keberuntunganku..

Senin, 7 Januari 2008
Ternyata, bukan hanya kemarin hari sialku karena hari ini aku terbangun dengan fakta bahwa hari ini ada jadwal ujian mata kuliah yang paling tidak bisa kupahami walopun sudah kuulang dua kali. Bukannya aku tidak mau belajar, hanya saja aku sendiri bingung apa yang harus aku pelajari. Jadi ya, modal nekat aja deh..
Ya, dengan modal nekat itu, aku bersama sahabatku, Gina, berjalan kaki ke kampus. Kami sibuk berdiskusi apa yang akan ditanyakan dalam ujian nanti berhubung kami dikuliahi oleh dua dosen yang berbeda untuk mata kuliah yang sama. Saat kami sedang asyik beradu argumen, sayup-sayup kami mendengar ada suara memanggil namaku, “Reta!!”
Aku menoleh ke kanan dan melihat seseorang melambaikan tangan ke arahku. Berhubung aku tidak mengenakan kaca mataku, perlu waktu beberapa detik untuk mengenali sosoknya. Dan ternyata, itu memang dia. Wuah, senangnya bisa ketemu sama dia. Eits, jangan senang dulu! Ini kan artinya aku harus mulai ngelupain dia. Hmm, jadi ini jawaban doaku yang kemarin..
Dan ternyata tak seperti perkiraanku sebelumnya, aku rela-rela aja tuh pegang komitmen awalku buat ngelupain dia. Mungkin karena dari awal aku yakin, Tuhanlah yang paling tahu yang terbaik buat aku. Dan kurasa memang inilah yang terbaik. Mungkin selama ini aku sendiri yang menenggelamkan diriku dalam obsesi yang ga jelas juntrungannya dan sebenarnya ga penting, cuma aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Huh, kenapa aku baru sadar setelah sekian tahun berlalu ya? Ya, memang tidak berlalu begitu saja. Aku tahu ada hal yang ingin Tuhan sampaikan padaku melalui peristiwa ini..
Memberikan seluruh cinta kita kepada seseorang bukan jaminan dia akan membalas cinta kita. Cinta yang tulus ga mengharapkan balasan. Jadi, tunggu aja sampai cinta juga tumbuh di hatinya, atau kalo ga ya.. berbahagialah karena cinta itu tumbuh di hati kita.. Halah, ga banget siy kata-katanya..

Sabtu, 09 Februari 2008

Benci Jadi Cinta, Sayang Jadi..??

Huuuuuuuuuuh.. baru kali ini gu nemuin cowok senyebelin itu!! Masih anak baru tapi dah berani nantangin gue. Liat aja, ujian besok, giliran gue yang cetak top score di kelas. Pasti. Paastii.. Paaastiii...
“Tinaaa!! Bangun dong, Sayang. Ntar telat lagi ke sekolah. Katanya ada ujian,” teriak Mama sambil membuka jendela kamarku.
Siaul, gue telat bangun. Semalem ketiduran lagi. Aduh, gimana dong ujian gue. Mana gue belom sempet belajar lagi, kalah lagi deh ntar ama si kunyuk, pikirku sambil bergegas mandi dan bersiap memperoleh kekalahan.
Udah setengah semester ini, gue saingan nilai sama Adi, anak baru di kelas gue. Ga cuma ngerebut posisi pertama di setiap pembagian nilai tugas dan ujian, dia juga ngerebut perhatian temen-temen ma guru-guru di kelas. Padahal semester lalu, guelah yang jadi bintang dan dipuja-puji di kelas.
Saking sebelnya ma tu anak, gue dengan lantang ngobarin api permusuhan di depan tu anak. Dan ternyata, ditanggapi positif ma dia. Maka resmilah perang saudara antara kami di dalam kelas. Tak hanya, berebut nilai dan perhatian, kami juga saling menjatuhkan image lawan. Misalnya saat guru bertanya,”Siapa yang bisa menyelesaikan soal terakhir di papan tulis?”
Maka aku dengan lantang menjawab,”Rosa, Bu.”
“Rosa?” tanya bu guru sambil mengernyitkan dahi kepadaku.
“Iya, Bu. Rosadi.”
Terkekeklah seisi kelasku dan tertangkaplah wajah kusutnya yang kutanggapi dengan senyuman bahagia.
Di lain kesempatan, datang tamu kelas menanyakan siapa ketua kelasku.
Dengan girang, dia menjawab,”Tuh si Agus.”
Serempak seisi kelas menengok padanya, terutama aku. Halo, akulah sang ketua kelas yang dicari. Dan namaku bukan Agus. Gila ya, nih anak. Namaku kan.. mmhh, Agustina. Sialan!!
Yah, begitulah. Nyaris setiap hari kami berperang panas maupun dingin. Nyaris setiap bertemu kami saling mencibir. Nyaris setiap hari kami saling mencari kesalahan lawan. Nyaris setiap hari kami memutar otak untuk melakukan serangan berikutnya. Nyaris setiap hari kami merasa gelisah kalo belum melontarkan kata-kata pedas. Nyaris setiap hari kami merasa resah kalo belom bertatap-tatapan sinis. Nyaris setiap hari, kami jadi merana kalo belom menerima serangan lawan. Nyaris setiap hari, kami jadi semangat masuk sekolah tiap hari biar bisa ketemu sama.. heeeeeeeh?!
Hehe.. gitu dey. Tanpa sadar gue dah ngelewatin batas tipis antara benci dan cinta. Halah!! Eh, beneran niy. Soalnya, demi mendamaikan kami berdua, guru-guru dan teman-teman di sekolah bersekongkol menyatukan kami dalam setiap pembagian tugas kelompok dan bahkan mendudukan kami bersebelahan.
Pertama bekerja sama, kami sering banget berdebat kusir, lama-lama ga tau kenapa, dia jadi sering ngalah. Kadang-kadang, gue nangkep dia senyum-sendiri. Ih, dah gila kali ya tu anak. Kalo gue lagi bengong-bengong ga jelas, dia bertingkah konyol yang bikin gue ngakak ampe sakit perut.
Sampai akhirnya..
Gue lagi sedih gara-gara kalah dalam semifinal lomba cerdas tangkas di sekolah, sedangkan dia masuk final dan dapat juara unggulan. Gue yang malu campur sedih jadi ga konsen belajar, padahal hari itu ada ujian elektronika. Uh, ga banget deh. Gue sih oke-oke aja disuruh ngapalin rumus dan gambar rangkaian, tapi jangan suruh gue ngegambar barang elektronik. Apalagi, guru elektronika gue itu rese banget. Masak rangkaian setrika gue udah bener tapi cuma dapet 8 poin dari 10 poin maksimum. Alasannya, gambar gue ga mirip kayak setrika. Yaelah, yang penting kan rangkaiannya, bukan setrikanya.
Hari itu, guru gue nyuruh kami ngegambar rangkaian gitar listrik. Tanpa sadar gue bergumam,”Mati deh gue. Pasti ntar gue Cuma dapet 5 poin gara-gara bentuknya ga kayak gitar..”
Tiba-tiba, Adi narik lembar jawab ujian gue dan ngegambarin gue gitar listrik. Gue cuma bisa bengong doang. Tiba-tiba dia balikin kertas gue sambil bilang,”Lo bisa gambar rangkaiannya sendiri kan?”
Dan gue yang masih dalam keadaan syok cuma ngejawab,”Hhh, iya.. iya, bisa kok.”
Pulang sekolah, gue kepikiran kejadian itu terus dan baru sadar kalo gue belom ngucapin makasih. Akhirnya, gue ngubungin dia via ponsel. Gara-gara sering kerja kelompok bareng dia, gue jadi tau nomor ponselnya. Sebagai rasa terima kasih, gue ngajak dia makan di PIM (Pondok Indah Mall).
“Wah, makasih ya traktirannya. Sering-sering aja,” canda Adi yang gue jawab dengan ketus,”Sering-sering aja gigi lo!! Gue nraktir cuma sebagai rasa terima kasih gue. Sebenarnya sih gue ga berterima kasih juga ga papa kali, secara gue ga pernah minta tolong. Lo-nya aja yang merelakan diri buat ngegambar tu gitar.”
“Gue cuma bercanda kok, Tin. Lo jangan langsung ngamuk gitu dong.”
“Hah, siapa yang ngamuk? Gue kan.. bercanda juga,” jawabku kikuk.
“Oh, kirain.. Mmm, karena lo dah nraktir gue makan, gue mo nraktir lo nonton film. Terserah lo deh mo nonton apa.”
“Gue mo liat remake-an Badai Pasti Berlalu soalnya gue ngefans banget ma Vino-Haanun. Lo tahan ga nonton yang kayak gitu?”
“Apa sih yang ga buat lo,” jawabnya datar.
Heh?! Gue ga salah denger kan yang barusan?
Sepanjang nonton tu film, gue deg-degan banget, tapi pas ngelirik dia, dianya biasa aja. Gimana sih?!
Selesai nonton, gue minta ditemenin bentar ke supermarket buat beli daging cincang pesenan nyokap. Eh, di depan tukang daging, tiba-tiba dia bilang,”Tin, gue sayang ma lo. Kita jadian yuk..”
Niy anak niat jadian ga sih. Masak ngajak jadian kayak ngajak makan? Di tempat daging yang super bau, diliatin en diketawain ma tukang-tukang dagingnya lagi. Tapi berhubung gue sadar kalo gue juga sayang ama dia, ya gue jawab aja,”Eee, yuuuk..”
“Serius lo?!” tanya dia girang.
“Yaaa, serius..”
“Lo juga sayang ama gue?”
“Ya, gitu deh.”
“Yes! Yes!! YES!!” serunya.
“Eh, tapi inget, lo ga usah ngomong ke temen-temen kalo kita dah jadian.”
“Lho, kenapa?”
“Ya, ga papa sih. Jangan sekarang, ntar-ntaran aja kasi taunya.”
“Oh, oke. Beres..”
Gue pun tersenyum bahagia sampai akhirnya gue sadar... ”Yuk cepetan bayar, bau nih,” kataku sambil menutup hidung dan meninggalkan tempat daging beserta tukang-tukangnya yang saling berbisik-bisik menertawakan kami.
***
“Oh, akhirnya kalian jadian juga. Cie.. Kqkq.. Dulu katanya benci.. sekarang jadi cinta,” cecar teman-teman ketika aku baru sampai di kelas.
“Siapa yang jadian?” tanyaku berlagak pilon.
“Dih, pake nanya lagi,” cibir Rani.
“Lo ga usah sok polos, Tin. Kita semua dah pada tau kok kalo hari Minggu kemaren lo jadian ma Adi kan. Abis itu, kalian nonton plus makan siang bareng di PIM. Ya, kan? Duh, mesra amat niy pasangan baru kita,” seru Fahri.
“Bagus deh, berarti kelas kita ga bakalan kayak disatronin preman pasar. Ga bakal ribut-ribut lagi. Ya, ga temen-temen?” tanya Krista.
“Iyaaaaaaaaaa,” seru seisi kelas serempak.
“Udah, Tin, mending lo ngaku aja deh. Ceritanya kalian dah damai nih?” Cindy bertanya.
“Ga, cuma gencatan senjata doang,” jawabku keki sambil duduk dengan geram di kursiku. Pasti si kunyuk itu yang nyebarin soal jadian ini. Duh, malu banget, gue.. Awas aja tuh anak.
“Yuhu, pujaan hati Tina dah dateng tuh.”
Langsung aja gue samperin dia di depan kelas.
Seisi kelas serempak meledek,“Cie yang baru..”
“Heh, lo kan yang ngasih tau anak-anak soal jadian kita?” tukasku.
“Iya, emang kenapa?” tanyanya polos.
“Emang kenapa?! Gue kan dah bilang ngasih taunya ntar-ntaran aja.”
“Lha, ntarnya kemaren kan bisa tadi malem, ato pagi ini. Lagian lo ga usah sesewot itu kali.”
“Gue kan malu, gimana sih lo. Katanya sayang ma gue, tapi kok ga ngerti perasaan gue?”
“Heh, lo sendiri, katanya sayang ama gue, tapi kok pake malu ngaku kalo kita dah jadian?”
“Siapa bilang gue sayang ma lo?”
“Ya, elo sendiri..”
“Kapan?!”
“Kemaren pas kita jadian..”
“Masak sih?!”
“Ye, pake sok lupa segala lagi..”
“Bodo. Itu kan kemaren. Sekarang gue ga sayang ma lo lagi!!” pekikku.
“Ya, kalo gitu perasaan lo ke gue sekarang apaan dong?”
“Sebeeeeeeeeeeeeeeeel,” geramku.
“Gawat, kayaknya masa gencatan senjata udah abis nih,” gumam salah seorang temanku diikuti
anggukan lemas teman-teman yang lain.
nb: Niy cerpen emank norakz abiz. Gue emank ga bakat euy nulis2 crita. Yang penting kan mau belajar nuangin ide, daripada ide2 gue buyar smua kayak yg udah2. Sbenernya maksud gue ga senorakz ini siy, tapi jadinya malah begini doank.. Hikz..