Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2009

what's wrong with honesty??

kejujuran itu,,
bagai jalan berjalur 2,,
kadang membawa qta ke kanan,,
kadang membawa qta k kiri,,

kejujuran itu,,
bagai 2 sisi mata uang,,
di satu sisi membuat keadaan baik,,
di satu sisi membuat keadaan buruk,,

kejujuran itu,,
bagai pedang bermata 2,,
di suatu saat dy memulihkan,,
di suatu saat dy menusuk,,

kejujuran itu,,
bagai 2 bagian bumi,,
satu bagian terang,,
satu bagian gelap,,

yang pasti,,
kejujuran itu,,
kadang membuat qta tersenyum,,
kadang membuat qta menangis,,

ada apa siy dengan kejujuran??

Senin, 07 April 2008

Beda Suka, Sayang, & Cinta


SUKA adalah saat kamu melihatnya, dan kamu akan berkata, "Ia sangat cantik dan menawan."
SAYANG adalah saat kamu melihatnya, dan kamu akan melihatnya dari hatimu dan bukan dari matamu.
CINTA adalah saat kamu melihatnya, dan kamu akan berkata, "Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."

Pada saat kamu SUKA pada seseorang, kamu akan memaksanya untuk menyukaimu.
Pada saat kamu SAYANG pada seseorang, kamu akan membiarkannya memilih.
Pada saat kamu CINTA pada seseorang, kamu akan selalu menantinya dengan setia dan tulus.

Saat kamu SUKA pada seseorang, kamu ingin memilikinya.
Saat kamu SAYANG pada seseorang, kamu ingin membuatnya bahagia.
Saat kamu CINTA pada seseorang, kamu mau melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kamu harus mengorbankan jiwamu.

Saat kamu berada di sisi orang yang kamu SUKA, kamu akan bertanya, "Bolehkah aku menciummu?"
Saat kamu berada di sisi orang yang kamu SAYANG, kamu akan bertanya, "Bolehkah aku memelukmu?"
Saat kamu berada di sisi orang yang kamu CINTA, kamu akan menggenggam erat tangannya...

SUKA adalah saat dimana kamu akan menemaninya bila itu menguntungkan.
SAYANG adalah saat dimana kamu akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
CINTA adalah saat dimana kamu akan menemaninya apapun keadaanmu.

SUKA adalah saat ia menangis, dan kamu akan berkata, "Sudahlah, jangan menangis."
SAYANG adalah saat ia menangis, dan kamu akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kamu akan membiarkannya menangis di pundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama."

Pada saat orang yang kamu SUKA menyakitimu, kamu akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
Pada saat orang yang kamu SAYANG menyakitimu, kamu akan menangis untuknya.
Pada saat orang yang kamu CINTA menyakitimu, kamu akan berkata, "Tak apa, dia hanya tak tau apa yang dia lakukan."

SUKA adalah hal yang menuntut.
SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
CINTA adalah hal memberi dengan tulus.

-anonim-
edited by ^nouphz^

Senin, 24 Maret 2008

Kisah 3 Pohon

Dahulu kala, 3 pohon berteman dengan rukun. Pohon I berkata, ”Aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi oleh benda-benda yang begitu indah dan mahal, seperti emas, perak, dan permata.” Lalu, Pohon II membalas, “Kalau aku ingin menjadi sebuah kapal kuat dan besar. Aku akan mengangkut raja-raja berlayar ke seluruh penjuru dunia.” Tak mau kalah, Pohon III berkata, “Aku akan menjadi pohon yang tinggi. Setiap orang yang memandangku akan berpikir betapa dekatnya aku dengan Tuhan. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan setiap orang akan mengingatku.”
Setelah berdoa beberapa tahu agar keinginan mereka terkabul, sekelompok penebang kayu menebang ketiga pohon tersebut. Pohon I dibawa ke tukang kayu dan dijadikan kotak jerami. Pohon II dibawa ke tempat pembuatan kapal dan dijadikan perahu nelayan yang kecil. Sementara, Pohon III dipotong-potong, lalu dibiarkan teronggok dalam gelap. Tahun demi tahun berlalu, ketiga pohon tersebut mulai melupakan impian mereka.
Suatu malam, sepasang suami istri tiba di sebuah kandang. Sang istri melahirkan seorang bayi, lalu meletakan bayinya di tumpukan jerami dalam sebuah kotak kayu yang terbuat dari Pohon I. para gembala datang menyembah bayi itu. Akhirnya Pohon I sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan harta terindah sepanjang masa.
Puluhan tahun kemudian, sekelompok pria naik ke atas perahu nelayan yang terbuat dari Pohon II.
Di tengah danau, badai besar datang dan Pohon II berpikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Tiba-tiba seorang pria berdiri dan berkata, “Diam! Tenanglah!”, dan badai pun berhenti. Tahulah si Pohon II, bahwa ia ia telah mengangkut Raja di atas segala raja.
Selang beberapa tahun kemudian, seseorang datang dan mengambil potongan Pohon III. Ia dipikul sepanjang jalan, sementara pria yang memikulnya diejek oleh orang-orang. Pria tersebut kemudian dipakukan padanya dan wafat di puncak bukit. Kemudian, dia sadar bahwa ia begitu dekat dengan Tuhan karena rupanya Yesuslah yang disalibkan padanya.
Ketiga pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka impikan dengan cara yang jauh lebih indah daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya!! Kadang situasi tidak seperti yang kita inginkan, kadang kita merasa hidup kita tak berarti, kadang keadaan membuat kita putus asa. Tapi jika kita berharap padaNya, percayalah, Ia akan memberikan berkat-berkatNya yang luar biasa dengan caraNya yang dasyat dan waktuNya yang sempurna..
-anonim-
edited by ^nouphz^

Tuhan Setia


Sebuah suku Indian memiliki cara unik dalam mendewasakan anak laki-laki mereka. Ketika seorang anak laki-laki dianggap telah cukup umur untuk ‘didewasakan’, anak tersebut akan diantar masuk ke dalam hutan dengan mata tertutup.

Setelah hari menjadi gelap, tutup mata anak itu dibuka, lalu orang yang mengantarnya ke dalam hutan tadi pergi meninggalkannya. Anak tersebut akan dianggap dewasa jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam semakin larut. Hutan mulai mengeluarkan suara-suara menyeramkan: auman serigala, bunyi dahan gemerisik.. Setakut apapun anak itu, ia tetap berusaha diam agar ‘lulus ujian’. Waktu terasa begitu lama berlalu. Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun. Hingga akhirnya, mulai tampak sedikit cahaya pagi.

Si anak ini mulai merasa lega dan gembira. Lalu, ia mengalihkan padangan ke sekelilingnya. Ia kaget ketika melihat ayahnya berdiri tak jauh dari situ dengan posisi siap menembakkan anak panah dan golok terselip di pinggang, menjagainya sepanjang malam. Jika ada hewan buas, si ayah bermaksud dapat segera melepaskan anak panahnya sebelum hewan buas itu mendekati anaknya sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, kita terkadang merasa Tuhan ‘kejam’ melepaskan kita, anak-anakNya ke dalam dunia yang jahat ini. Sering kali kita tidak dapat melihat penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Tapi satu hal yang pasti dan harus kita yakini, Ia setia, Ia mengasihi kita, dan selalu menjaga kita.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23: 4)

-anonim-
edited by ^nouphz^


Selasa, 04 Maret 2008

Terserah Qta

1 pohon dapat mengawali suatu hutan

1 burung dapat menyiarkan musim semi

1 bintang dapat memandu kapal di laut

1 lilin dapat menyapu kegelapan

1 lagu dapat menyalakan suatu momen

1 senyuman dapat memulai persahabatan

1 tepuk tangan dapat membangkitkan jiwa

1 kata dapat membingkai tujuan

1 suara dapat mengubah suatu negara

1 tawa dapat menaklukan kesuraman

1 langkah dapat mengawali perjalanan

1 harapan dapat membangkitkan semangat

1 sentuhan dapat menunjukan kita peduli

1 hidup dapat membuat perbedaan

Kita tahu, semuanya terserah kita!!

-anonim-
edited by ^nouphz^

Dia Masih Menunggu

Pagi itu, Imanuel, biasa dipanggil Nuel, sedang melihat monitor di hadapannya. Tampak olehnya, Sisi sedang tidur dengan lelapnya.
“Sekarang sudah hampir jam 6 pagi. Siap-siap bangunkan Sisi! Hari ini dia akan kuliah pagi. Jangan sampai dia terlambat,” perintah Nuel.
“Baik, Tuan,” sahut Gabriel, orang kepercayaan Nuel.
Gabriel segera melesat ke kamar Sisi lalu membangunkan gadis 19 tahun itu. “Non Sisi, ayo bangun. Ini sudah pagi. Hari ini, Non ada kuliah pagi kan?”
“Huuh, bentar lagi ah. Masih ngantuk nih,” keluh Sisi.
“ Aduh, Non. Non harus bangun sekarang, nanti telat lho. Non kan mandi sama dandannya suka lama.”
“Huuh, iya, iya. Niy Sisi bangun,” gertaknya sambil menghentakkan tubuhnya dari posisi berbaring ke posisi duduk,”Puas, puas?!”
“Ih, si Non. Pagi-pagi kok udah merengut? Tuan Nuel udah nunggu di luar kamar tuh. Mau disuruh langsung masuk aja, Non?”
“Ga usah deh. Aku mau mandi dulu, baru nemuin dia.”
“Baik, Non,” sahut Gabriel sambil meninggalkan kamar Sisi.
Di luar kamar, Nuel sudah menunggu. “Bagaimana? Sisi mau langsung menemuiku?”
“Katanya setelah mandi saja, Tuan,” jawab Gabriel.
“Ya, sudah. Kalau begitu, saya tunggu di di ruang makan saja. Cepat siapkan sarapan.”
“Baik, Tuan.”
Baru 50 menit kemudian, Sisi menemui Nuel di ruang makan. Seperti kata Gabriel, Sisi memerlukan waktu lama untuk sekedar mandi dan berdandan. “Pagi, Nuel,” sapanya dengan girang.
“Pagi, Sisi. Ayo duduk dan makan sarapanmu,” ajak Nuel.
“Ayo. Kayaknya sarapan pagi ini enak,” gumamnya sambil mengamati makanan yang tersaji di meja dengan senyuman.
Sisi pun makan dengan terburu-buru. Tanpa permisi, ia segera melesat ke kampusnya karena takut telat. Walaupun sudah mengebut sepanjang jalan, ia baru samapai di kampus jam 07.05. Sambil komat-kamit berdoa agar tidak dimarahi dosen, ia berjalan menuju kelasnya. Tapi rupanya, sang dosen belum tiba di kelas, melainkan masih berjalan menuju kelas dari arah yang berlawanan. Sambil mensyukuri hal itu, Sisi segera melesat masuk kelas mendahului sang dosen.
Selesai kuliah, Gabriel menelepon Sisi. “Kuliah Anda sudah selesai, Non?
“Sudah,” jawab Sisi sekenanya.
“Perlu saya jemput sekarang?”
“Ya, boleh. Saya makan siang bentar, ya?”
“Baik, Non.”
“Sudah dulu, ya.”
“Sebentar, Non. Ini, Tuan Nuel ingin bicara.”
“Ah, ntar aja deh. Udah laper banget niy.”
“Baik, Non. Akan saya sampaikan.”
Di rumah.
“Bagaimana? Sisi mau bicara dengan saya sekarang?” tanya Nuel penuh harap.
“Belum, Tuan, katanya nanti saja. Dia sudah kelaparan,” jawab Gabriel.
“Ya, sudah. Sekarang kamu jemput dia. Hati-hati di jalan, ya.”
“Baik, Tuan. Saya pergi dulu.”
Dengan hati-hati, Nuel menjemput Sisi di kampus. Rupanya Sisi sudah menunggu di depan gerbang kampusnya. Kelihatannya dia sangat lelah. Tanpa banyak basa-basi, mereka kembali ke rumah. Sisi segera melesat ke arah tangga.
“Lho, Non mau kemana?”
“Ya, ke kamarlah.”
“Tapi, Tuan Nuel sudah menunggu Non di ruang tengah sedari tadi. Sebaiknya Non temui beliau dulu.”
“Aduh, aku ngantuk banget. Ntar aja, ya.” Sisi melanjutkan perjalanannya ke kamar, berganti kostum, lalu segera tidur dengan pulasnya.
Gabriel bergegas ke ruang tengah menemui Nuel.
“Non Sisi sudah tiba, Tuan.”
“Apakah sekarang dia sudah mau menemui saya?”
“Non Sisi bilang dia sangat mengantuk dan ingin tidur dulu.”
“Ya, sudah, biarkan dia beristirahat dulu. Mungkin dia kecapekan. Kalau begitu nanti saja, saya menemuinya.”
Hari sudah sore ketika Sisi terbangun dari tidurnya. Ia bergegas mandi dan berdandan. Setelah merasa siap, ia turun ke bawah dan bertemu dengan Gabriel.
“Wah, rapi sekali. Non mau kemana?”
“Anterin ke Plaza Ambassador, dong. Aku mau jalan sama Rena. Jadi, ntar mampir ke rumah Rena buat jemput dia. Oke?”
“Baik, Non. Mmm, sebelum pergi, bagaimana kalau Non menemui Tuan Nuel dulu?”
“Aku lagi buru-buru. Ntar ajalah, pulang dari sana.”
Sisi sangat menikmati sore itu. Ia memang sangat mengitari mal, apalagi jika ditemani oleh sahabatnya, Rena. Mereka biasa ke mal untuk sekedar makan, nonton film, belanja, atau sekedar window shopping. Malam sudah larut ketika akhirnya Sisi tiba di rumah kembali.
“Huah, akhirnya sampai juga,” seru Sisi sambil berjalan menuju tangga.
“Non sudah mau tidur?”
“Belum.”
“Bagaimana kalau sekarang Non menemui Tuan Nuel?”
“Gimana, ya? Ntar aja gimana? Masih ada tugas kuliah yang mau aku selesain. Paling cuma sebentar kok. Kalau udah selesai, aku langsung nemuin Dia deh,” kata Sisi sambil melangkah menaiki tangga.
“Baik, Non. Akan saya sampaikan,” jawab Gabriel sambil menuju ke ruang tengah.
“Non Sisi sudah pulang, Tuan.”
“Kalau begitu, dia sudah bersedia menemui saya sekarang?”
“Belum bisa, Tuan. Katanya, masih ada tugas kuliah yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. Tapi dia bilang hanya sebentar saja. Setelah tugasnya kelar, dia akan segera turun menemui Tuan.”
“Baiklah, biarkan dia selesaikan tugasnya dulu.”
Sisi mengerjakan tugas-tugasnya dengan sistem kilat agar segera selesai. Waktu sudah lewat tengah malam ketika akhirnya Sisi menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Saking ngantuknya, ia tidak ingat untuk turun ke bawah menemui Nuel dan segera tidur dengan nyenyaknya. Ketika Gabriel melintasi kamar Sisi, dilihatnya bahwa lampu kamar itu sudah dipadamkan, yang artinya Sisi sudah tidur. Segera, Gabriel menemui Nuel.
“Maaf, Tuan. Sepertinya Non Sisi tidak bisa menemui Anda kali ini. Dia sudah tidur sekarang.”
“Ya, sudah. Tidak apa-apa. Kelihatannya, ia sibuk sekali hari ini. Mungkin dia sangat lelah. Berjagalah selagi dia tidur. Saya akan menunggu untuk menemuinya besok.”
“Baik, Tuan.”

Pernahkah kita berada dalam situasi di atas? Bukan hanya pernah, sebagian besar dari kita pasti sering mengalaminya. Kita ini adalah sosok Sisi, Gabriel adalah sosok dari Roh Kudus, sementara Allah digambarkan dalam sosok Nuel. Kita tanpa sadar menenggelamkan diri dalam kesibukan kita sehari-hari, sehingga kita tidak bersedia menemui Allah. Kita hanya berdoa di saat kita ingat saja –biasanya adalah pada waktu ingin makan– selebihnya kita lupa sama Tuhan. Padahal, Tuhan udah mengirimkan Roh Kudus yang selalu mengingatkan kita. Tetapi acap kali, kita mengabaikan peringatan itu. Walau demikian, Tuhan tak juga lelah. Dia masih menunggu kita untuk menemuinya. Temuilah Tuhan ketika Dia masih berkenan untuk ditemui.. Dan lakukanlah, sekarang!

Minggu, 02 Maret 2008

Antara napi, Sampah, dan Qta..

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata napi alias narapidana? Pastinya timbul berbagai pikiran yang negatif, baik berupa sifat, sikap, maupun tindakan. Tetapi, pernahkah kita merasa bahwa hidup napi jauh lebih beruntung daripada hidup kita?
Bayangkan saja! Hidup napi amat teratur. Mereka memiliki jadwal kerja, makan, dan tidur yang teratur. Sementara, kita terkadang bisa mengorbankan jam makan dan tidur karena pekerjaan yang harus kita selesaikan terlebih dahulu. Napi tidak perlu repot memikirkan makanan yang akan mereka makan karena sudah ada yang menyiapkannya bagi mereka. Sementara, kita harus menyiapkan makan kita sendiri bila kita lapar, entah itu dengan memasak di dapur atau pergi membeli di suatu tempat.
Terkadang, napi diperlakukan bak orang penting. Jika para napi ingin keluar atau masuk ke dan dari suatu ruangan, ada seseorang yang membukakan pintu bagi mereka. Sementara, kita harus membuka sendiri pintu, jika kita ingin masuk atau keluar ruangan. Selain itu, napi juga dijaga dengan aman oleh para penjaga penjara, sementara kita harus menyiapkan uang lebih untuk membayar satpam atau bodyguard untuk menjaga kita.
Melihat berbagai kemudahan yang mereka dapatkan tersebut, apakah lantas kita mau menjadi seorang napi? Normalnya sih, tidak. Karena walaupun mereka memperoleh berbagai kemudahan seperti di atas, tetapi mereka adalah orang-orang yang bisa digolongkan sebagai sampah masyarakat karena perbuatan mereka yang merugikan orang-orang di sekitar mereka. Kita tentu tidak ingin menjadi sampah yang dibuang atau dibakar orang karena sudah tidak ada gunanya lagi.
Tetapi sebenarnya tak hanya napi. Coba kita berkaca, apakah selama beberapa waktu ini, kita melakukan perbuatan yang berguna bagi Tuhan dan sesama, dan tentu bagi diri kita sendiri? Jika ya, selamat, karena berarti kita bukanlah sampah. Perkaya kinerja kita agar semakin berguna, kalau perlu multi guna! Tetapi jika jawaban kita adalah tidak, waspadalah. Sebelum terlanjur menjadi sampah yang dibuang atau dibakar orang, minta Tuhan me-recycle diri kita agar kita dapat kembali berguna.

Jumat, 29 Februari 2008

(F)ather (A)nd (M)other (I) (L)ove (Y)ou

Kita semua pasti memiliki keluarga. Tak harus kandung, bisa tiri, angkat, atau siapa saja yang sudah kita anggap kerabat dekat. Lalu, apakah kita menyayangi keluarga kita? Jika ya, apakah tindakan kita selama ini sudah menunjukan rasa sayang kita pada keluarga ataukah justru menyakiti hati mereka?

Aku adalah anak pertama dalam suatu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, dan empat orang anak. Ketiga adikku bisa dibilang anak-anak yang sangat rewel dan sulit diatur. Kalo aku menasihati mereka, mereka malah menangis dan ujung-ujungnya, akulah yang kemudian dimarahi oleh kedua orang tuaku. Mungkin karena itu, aku jadi sering sebal pada mereka, pada Popz (ayahku) yang moody-an dan menurutku suka mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang keluarganya, Momz (ibuku) yang cerewet dan keras kepala, serta ketiga adikku yang sering berulah, berisik, dan membuat rumah berantakan.
Ketika mereka ingin meminjam barang-barang kepunyaanku, tak jarang aku malah membentak mereka dengan alasan mereka tidak bisa menjaga barang mereka sehingga nantinya barang-barangku pun berada dalam zona tak aman (bisa rusak, bahkan hilang). Sebaliknya, jika teman-temanku ingin meminjam barang, dengan senyum aku menyerahkan barang-barangku untuk mereka gunakan. Padahal tak jarang, teman-temanku juga merusak atau menghilangkan barang-barangku yang mereka pinjam.
Sering juga aku mengamuk jika keluargaku berbuat salah padaku. Ekspresiku bisa berupa umpatan, bentakan, atau bantingan barang. Tetapi jika temanku berbuat salah, aku bisa dengan mudahnya berkata, “Tidak apa-apa,” lalu mengobrol seperti biasa dengan mereka.
Kalau kupikirkan lagi, ironis sekali perlakuanku terhadap keluargaku. Padahal merekalah yang selalu ada saat aku senang maupun susah, merekalah yang selalu mendukung aku dalam doa mereka, merekalah yang selalu merindukan kehadiranku, sejak aku hadir di dunia ini hingga detik ini. Kadang mereka memang mengecewakan aku, tapi tak jarang pula aku mengecewakan mereka. Bahkan salah satu alasanku mengambil kuliah di luar kota adalah agar bisa lepas dari keluargaku.
Setelah kuliah di kota ini, aku baru tahu bahwa dunia ini tak seindah yang kukira, bahkan bisa jadi sangat ganas dan kejam. Dan keluargaku adalah salah satu tempatku bersandar ketika aku harus melalui masa-masa perkuliahan yang berat karena tidak sesuai dengan hal yang selama ini kuimpikan, kehilangan teman-teman terbaikku di masa sekolah, dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang begitu mengecewakan aku.
Tapi untunglah, masih ada keluarga yang selalu setia mendukung aku. Terima kasih, Tuhan, karena Kau mengaruniakan aku keluarga yang begitu luar biasa. Dan terima kasih juga karena Kau justru menambahkan keluarga baru buatku di kota ini. Sahabat-sahabat yang mau menerimaku apa adanya dan tak putus-putusnya mendukung dan menghibur aku. Aku benar-benar menyayangi mereka semua, Popz, Momz, adik-adikku, dan tentu saja sahabat-sahabatku.
Mari mulai saat ini, kita tunjukanlah rasa sayang kita pada keluarga. Tak harus dengan kata-kata, tapi buktikan melalui tindakan kita. Perhatian yang sederhana sekalipun dapat membekas di hati mereka. Seringkali kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangan dan kita tidak tahu apa yang belum kita miliki sampai kita mendapatkannya.

I'm So Special..n So You are!!

Kedengarannya pede banget yakh?? Hehe.. Sebagai anak Tuhan, kita emang kudu (harus) pede. Kita kan udah tahu kalo Tuhan menciptakan kita berdasarkan gambar dan rupaNya sendiri. Jadi udah pasti kita ini oke punya!!
Supaya makin oke, Tuhan itu nyiptain kita secara spesifik, sehingga ga ada satupun dari kita yang persis sama, biar kembar identik sekalipun. Kalo ga percaya, cek aja sidik jari kita. Di seluruh dunia, ga ada deh yang nyamain. Keren kan? Makanya, kita jangan pernah ngebandingin diri kita ama orang-orang di sekitar kita.
Walopun kita ini ciptaan yang spesial, kita ga lepas dari kelebihan dan kekurangan. Ya iyalah, kalo kita perfect, apa bedanya kita ama Tuhan? Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya, 'kenapa siy kita mesti punya kelemahan?' Jawabannya, karena Tuhan adalah Allah yang rindu untuk dicintai dan dikasihi oleh kita, anak-anakNya (Kel. 20: 5-6). Dia tahu banget kalo yang namanya manusia suka lupa daratan kalo lagi seneng dan baru inget Tuhan kalo lagi susah. Tuhan pengen kita selalu bergantung sama Dia, baik senang maupun susah. Dia ingin kita memuji dan memuliakan Dia dengan kelebihan dan kekurangan kita. Banyak kejadian dimana Tuhan justru menggunakan kekurangan kita sebagai berkat bagi sesama kita dan tak jarang kelebihan yang kita miliki justru menimbulkan bencana jika kita salah menggunakannya.
Contohnya aja, Raja Daud yang di masa kecilnya diremehkan karena bentuk tubuhnya yang kecil. Tapi karena Tuhan menyertai dia, dia berhasil mengalah Goliat yang tubuhnya jauh lebih besar dari dia (I Sam. 17: 40-58). Sementara anaknya Salomo yang diberkahi Tuhan dengan hikmat, kebijaksanaan, dan kekayaan yang melimpah malah jatuh ke penyembahan berhala karena cintanya pada istri-istrinya (I Raj. 11: 1-13). Jadi, ga selamanya kelebihan jadi berkat dan kekurangan jadi bencana.
Nah kalo kita belum tahu apa kelebihan kita, coba deh ambil waktu sejenak untuk memikirkan apa kelebihan kita (Rm. 12: 6). Kalo belum nemu juga, jangan putus asa. Ingat, Tuhan memberi kita karunia yang beda satu dengan lainnya (I Kor. 1: 5-7). Jadi, minta Tuhan nunjukin kelebihan kita itu (I Kor. 7:7). Buat kita yang udah tahu kelebihan dan kekurangan kita, mulailah berkarya dan berkreasi untuk Tuhan (I Tim. 4: 14).
Ketika kita sukses dalam berkarya dan berkreasi, bahkan yang buat Tuhan sekalipun, kadang kita jadi lupa diri dan menganggap kesuksesan itu adalah buah kerja keras kita sendiri. Wah kalo udah begini, kita harus waspada karena berkat kita nantinya jadi macet dan ga bisa mengalir pada sesama kita. Sebaliknya, ketika kita gagal, jangan pernah ngejelekin diri sendiri apalagi dengan omongan karena lidah kita berkuasa lhow (Ams. 18:21). Gagal itu wajar kok dan kegagalan merupakan pelajaran untuk meraih sukses. Kalo ga percaya, kamu boleh baca buku-buku biografi orang-orang sukses tingkat nasional maupun internasional. Semua kesuksesan yang mereka raih merupakan buah kegagalan di masa lalu mereka.
Ingat lowh, kita ini spesial, ga ada duanya, dan Tuhan nyiptain kita dengan segala dan kelebihan kita dengan maksud dan tujuan yang ruarrr biasa. So, cintailah diri kita apa adanya dan ayo semangat berkarya dan berkreasi buat Tuhan!!